Satu Tekad, Indonesia dan Singapura Tak Akan Memihak China Jika Konflik di Asia Terjadi

- 26 Agustus 2020, 14:15 WIB
Satu Tekad, Indonesia dan Singapura Tak Akan Memihak China Jika Konflik di Asia Terjadi /MINDEF Singapore

Zonajakarta.com - Tharman Shanmugaratnam selaku Menteri Koordinator Kebijakan Sosial Singapura menegaskan jika pengaruh negara-negara ASEAN terhadap kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat maupun China tak bisa dipandang sebelah mata.

Tharman Shanmugaratnam menjelaskan jika ASEAN tidak boleh memihak antara AS maupun China dalam konflik dua negara besar tersebut di Asia.

Hal ini disampaikan Tharman dalam sebuah forum internasional di Singapura.

"Kami pikir ketegangan AS-China sebagai salah satu jebakan bagi banyak negara lain," kata Tharman dalam forum yang diselenggarakan oleh Standard Chartered Bank, Selasa, 25 Agustus 2020, seperti dikutip zonajakarta.com dari SCMP dan Pikiran Rakyat.

Baca Juga: Lawan Bebuyutan China Nyatakan Bersedia Bendung Militer Beijing di Asia

Tharman mengutip contoh tetangga Indonesia yang digambarkan sebagai negara 'bukan penurut' karena Indonesia punya ekonomi yang besar, kemakmuran, dan peluang yang diberikan pemerintah kepada warganya.

"ASEAN juga bukan penurut. Kami akan membuat keputusan sesuai dengan kepentingan nasional kami masing-masing. Kami ingin hubungan baik dengan China dan Amerika," kata Tharman.

Dia menambahkan mungkin ada beberapa peluang untuk negara-negara tertentu di Asia Tenggara berbisnis dengan Beijing yang disebut strategi China Plus One untuk mengelola risiko geopolitik dengan menempatkan fasilitas di negara-negara Asia lain.

Namun itu hanya sebatas kesepakatan bisnis saja bukan condongnya negara-negara ASEAN kepada salah satu pihak.

Baca Juga: Akhirnya Gading Marten Bertemu dengan Kekasih Gisel, Intip Momen Kebersamaan Mereka Pertama Kalinya

Tharman mengharapkan ketegangan AS-Tiongkok tidak peduli siapa yang menang, mengingat bagaimana faktor-faktor yang mengarah pada hubungan bilateral yang tegang.

"Baik AS dan China harus melakukan penyesuaian dan keduanya juga harus melakukannya dengan cara yang tidak hanya tentang memberi dan menerima hubungan bilateral, tetapi tentang memperkuat sistem multilateral karena itu untuk kepentingan mereka berdua," ujarnya.

Sementara itu Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan Indonesia dengan jumlah penduduk 273 juta, di mana sekitar 50 hingga 55 juta merupakan bagian dari kelas menengah memiliki pasar domestik yang cukup besar walau tanpa AS dan China.

"Kita bukan negara kecil. Kenapa harus berpihak? Kita punya pasar yang besar," kata Luhut.

Kedua pejabat negara kawasan Asia Tenggara ini memberikan pernyataan mereka di tengah meningkatnya minat dan komentar atas hubungan ASEAN dengan Washington dan Beijing.

Baca Juga: Lawan Bebuyutan China Nyatakan Bersedia Bendung Militer Beijing di Asia

Mereka memberikan perhatian khusus pada sikap kawasan negara kawasan Asia Tenggara terhadap sengketa Laut Cina Selatan (LCS) yang melibatkan beberapa negara anggota ASEAN dan China tentunya.

AS juga telah memperkuat posisinya di wilayah sengketa yang menandakan bahwa Paman Sam siap meladeni permainan China.

Dalam sebuah komentar pekan lalu, mantan diplomat Singapura, Bilahari Kausikan mengatakan pengamat eksternal gagal memahami kecanggihan kebijakan kawasan terhadap AS dan China.

"Orang (negara-negara) Asia Tenggara seharusnya lebih tahu dan tampaknya berasumsi bahwa wilayah kami dihuni oleh orang-orang bodoh yang tidak mampu," kata Bilahari.

"Ini adalah kesalahpahaman mendasar di Asia Tenggara. Hanya yang berpikiran sederhana atau partisipan yang berasumsi bahwa yang satu harus 'menang' dan yang lain 'kalah', seolah-olah hubungan internasional yang kompleks di kawasan itu dapat direduksi menjadi dua," tambahnya.*

Editor: Beryl Santoso

Sumber: Pikiran Rakyat, SCMP


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X