Karena Rajanya Suka Main Perempuan, Rakyat Murka Hendak Gulingkan Kerajaan Thailand

- 22 September 2020, 06:40 WIB
Karena Rajanya Suka Main Perempuan, Rakyat Murka Hendak Gulingkan Kerajaan Thailand /Adam Dean for The New York Times
 
ZONAJAKARTA.COM - Jika menjadi rakyat rakyat.com/tag/Thailand">Thailand, mengkritik Raja dan angggota keluarga kerajaan bisa kena hukuman.
 
Tapi kali ini rakyat rakyat.com/tag/Thailand">Thailand sudah muak dengan kelakuan pemimpin mereka, Raja Vajiralongkorn.
 
Bagaimana tidak, raja Vajiralongkorn malah mengasingkan diri di sebuah hotel di Jerman saat rakyat.com/tag/Thailand">Thailand sedang dilanda corona.
 
Parahnya ia membawa selir-selir kesana untuk menghibur dirinya bermain perempuan.
 
 
Mendapati kelakuan rajanya itu, ribuan pengunjuk rasa berdemonstrasi di Bangkok pada hari Minggu (20/9/2020).
 
Rakyat rakyat.com/tag/Thailand">Thailand menyampaikan tuntutan kepada Raja, termasuk seruan reformasi untuk mengekang kekuasaannya.
 
Para pengunjuk rasa semakin berani selama dua bulan ini.
 
Demonstrasi yang dilakukan adalah menentang istana Thailand dan pemerintahan yang didominasi militer.
 
Dikutip zonajakarta.com dari The Wire dan Portal Jember, Senin (21/9/2020) hal ini sebenarnya melanggar tabu lama tentang mengkritik monarki yang sebenarnya ilegal di bawah undang-undang lese majeste.
 
 
Istana Kerajaan belum bisa dihubungi untuk dimintai komentar. Raja, yang menghabiskan sebagian besar waktunya di Eropa, sedang tidak ada di Thailand sekarang.
 
Para demonstran diblokir oleh ratusan polisi tak bersenjata yang menjaga dengan alat penghalang kerumunan.
 
Pemimpin protes ini, menyatakan kemenangan setelah menyerahkan surat kepada polisi yang berisi tuntutan mereka. 
 
Phakphong Phongphetra, kepala Biro Polisi Metropolitan, mengatakan dalam siaran video dari tempat kejadian bahwa surat itu akan diserahkan ke markas besar polisi untuk memutuskan bagaimana kelanjutannya.
 
"Kemenangan terbesar kami dalam dua hari ini menunjukkan bahwa orang biasa seperti kami dapat mengirim surat kepada bangsawan," kata Parit "Penguin" Chiwarak, pemimpin demonstran kepada kerumunan sebelum bubar.
 
Raja Thailand Maha Vajiralongkorn dibawa dalam tandu emas selama prosesi penobatan di Bangkok pada 5 Mei 2019.
Raja Thailand Maha Vajiralongkorn dibawa dalam tandu emas selama prosesi penobatan di Bangkok pada 5 Mei 2019. AFP / Manan Vatsyayana
 
Ini merupakan demonstrasi terbesar dalam beberapa tahun kebelakang.
 
 
Puluhan ribu pengunjuk rasa pada hari Sabtu menyambut seruan untuk reformasi monarki serta untuk mencopot Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha, mantan pemimpin junta, konstitusi dan pemilihan baru.
 
Tak lama setelah matahari terbit pada hari Minggu, pengunjuk rasa menyemen sebuah plakat di dekat Grand Palace Bangkok di daerah yang dikenal sebagai Sanam Luang, atau Royal Field.
 
Plakat itu bertuliskan "Di tempat ini orang-orang telah menyatakan keinginan mereka bahwa negara ini adalah milik rakyat dan bukan milik raja karena mereka telah menipu kita."
 
Juru bicara pemerintah Anucha Burapachaisri mengatakan polisi tidak akan menggunakan kekerasan terhadap pengunjuk rasa, dan kami menyerahkan keputusan pada polisi untuk menentukan dan menuntut setiap pidato ilegal.
 
"Pihak berwenang Bangkok perlu menentukan apakah plakat itu ilegal dan apakah itu perlu dihapus," kata wakil kepala polisi Bangkok Piya Tawichai kepada wartawan.*

Editor: Beryl Santoso

Sumber: The Wire


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X